Secara oraganisatoris kedua lembaga keagamaan-NU, Muhammadiyah-memang mencoba untuk tetap netral.Hal ini dutunjukkan dengan penerbitan surat intruksi oleh PP Muhammadiyah
No. 03/INS/I.0/A/2008, tentang Menjaga Kemurnian dan Keutuhan Muhammadiyah menghadapi pemilu tahun 2009.
(Sumber :muhammadiyah.or.id)
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh NU,tidak ada satupun sikap resmi PBNU terkait pemberian dukungan kepada salah satu pasangan capres-cawapres.pada titik ini keterlibatan testimoni maupun dukungan tokoh kedua lembaga bisa dianggap sebagai statemen dan sikap perorangan bukan mewakili sikap oraganisasi masing-masing tokoh.
Namun ditilik dari segi komunikasi politik,keterlibatan beberapa tokoh semisal Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin, M.A. (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Buya Syafi’i Ma’arif (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah),Hazyim MUzadi (Ketua Umum PB NU) dalam berbagai testimoni untuk Kandidat Peserta Pemilu 2009,JK-Wiranto maupun bentuk dukungan lain dapat dikategorikan pada upaya memberikan legitimasi agar warga NU-Muhammadiyah Memberikan suara pada kandidat bernomor urut 3 ini.
Setelah munculnya SBY-Boediono sebagai pemenang sementara (versi Quck Count LSI) dengan perolehan 60% suara per 13 juli 2009,kecaman pada tokoh agama yang dinilai tidak netralpun bermunculan. sebagaian masyarakat-sebagaimana dalam diskusi pada media Internet maupun media cetak menyayangkan sikap para ulama yang terlampau jauh memasuki ranah politik.apalagi setelah kandidat yang disokong diprediksi akan kalah dalam pertarungan pilpres 2009, praktis hal ini membuat para da’i tersebut semacam kehilangan kekuatannya dalam menggerakkan suara dalam pilpres ini.
Nasi telah menjadi bubur. Tokoh masiong-masing institusi keagamaan terbesar di Indonesia terlanjur terkena ranjau politik. Tentunya hal ini perlu menjadi pelajaran dan koreksi kita bersama baik selaku elit pimpinan maupun keluarga besar masing masing Institusi.Kedepan perlu ada sebuah kearifan politik bagi kita semua sehingga manakala terjadi persinggungan dengan wilayah politik tidak banyak menimbulkan dampak yang buruk.
Muktamar Muhammadiyah maupun NU semakin dekat.Sekiranya dalam forum permusyawaratan tertingi ini perlu dilakukan banyak pembenahan utamanya dalam bidang politik.Terlibat dalam politik tetap diperlukan sebab tidak bisa dipungkiri bahawa kemana arah perpolitikan negri ini adalah tanggung jawab bersama namun sekiranya perlu ditata sebuah strategi yang lebioh elegan agar tidak berdampak pada kepentingan yang lebih besar yakni setiah pada khita perjuangan dan menyelamatkan organisasi dari kepentingan politik praktis.
Sebagai sebuah kesimpuan,sejauh ini demokrasi di Bumi Pertiwi Indonesia sedang dan semoga akan terus berkembang.Dalam proses perkembangan yang pasang surut ini deperlukan sebuah kearifan bersama dari segenap elemen bangsa dalam kapasitas sebagai pribadi maupun sebagai pimpinan umat agar demokrasi tetap tegak dan berjalan diatas nilai-nilai independendsi etis.Oleh karenanya mari saling berkaca dan introspeksi agar hari depan bangsa ini-terlepepas dari hitam putihnya guratan tinta kita saat ini-akan mememukan sinar harapan seperti harapan para pendiri bangsa.Merdeka
Posted by: ivanistyawan | July 13, 2009
Recent Comments